Peralatan penambangan flotasi memainkan peran penting dalam industri pengolahan mineral dengan memisahkan mineral berharga dari batuan sisa. Efisiensi proses flotasi berdampak langsung pada pemulihan mineral dan pemanfaatan sumber daya. Namun, peralatan flotasi dapat mengalami berbagai kesalahan selama pengoperasian yang lama, yang dapat mengurangi efisiensi, meningkatkan biaya pemeliharaan, dan bahkan menyebabkan waktu henti yang berkepanjangan. Memahami jenis kegagalan umum pada peralatan penambangan flotasi dan cara mengatasinya sangat penting untuk menjaga kinerja optimal.
1. Kegagalan Motorik
Motor adalah kekuatan pendorong di balik komponen utama peralatan flotasi, seperti agitator dan air sparger. Kegagalan motor adalah salah satu masalah yang paling umum dan dapat bermanifestasi sebagai masalah seperti kegagalan start, pengoperasian tidak stabil, atau panas berlebih. Penyebab kegagalan motor mungkin termasuk masalah pasokan listrik, beban berlebih pada motor, keausan bantalan, atau penurunan kualitas kabel listrik.
Masalah Umum:
-
Gagal Memulai: Hal ini mungkin disebabkan oleh catu daya yang tidak stabil atau rusaknya kabel internal pada motor.
-
Panas berlebih: Sistem pendingin yang buruk atau beban berlebihan pada motor dapat menyebabkan panas berlebih.
-
Getaran Berlebihan: Bantalan yang aus atau pemasangan motor yang tidak tepat dapat menyebabkan getaran dan ketidakstabilan yang berlebihan.
2. Kegagalan Agitator
Agitator bertanggung jawab untuk menjaga keseragaman bubur dan memfasilitasi kontak antara mineral dan gelembung udara. Agitator yang tidak berfungsi dapat menyebabkan pencampuran bubur yang buruk, sehingga mempengaruhi proses flotasi. Masalah yang umum terjadi adalah bilah impeler yang aus, bantalan rusak, atau kecepatan pengadukan yang tidak stabil.
Masalah Umum:
-
Bilah yang Aus atau Patah: Pengoperasian yang terus-menerus akan membuat bilah impeler menjadi aus, menyebabkan pencampuran menjadi tidak efisien.
-
Kerusakan Bantalan: Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan bantalan agitator aus atau rusak, sehingga mengurangi efektivitas pencampuran.
-
Kecepatan Agitasi Tidak Stabil: Kesalahan motor atau masalah pada sistem penggerak dapat menyebabkan kecepatan agitasi tidak konsisten, sehingga mengurangi efisiensi flotasi.
3. Kegagalan Spager Udara
Sparger udara memainkan peran penting dalam menghasilkan gelembung dalam proses flotasi. Ukuran dan distribusi gelembung-gelembung ini sangat penting untuk pemisahan mineral yang efektif. Jika air sparger gagal, hal ini dapat mengakibatkan produksi gelembung tidak mencukupi atau tidak merata, yang pada akhirnya berdampak pada pelekatan dan pemulihan mineral.
Masalah Umum:
-
Penyumbatan: Sparger udara dapat tersumbat karena kotoran atau penumpukan sedimen di dalam bubur, sehingga mengurangi jumlah gelembung yang dihasilkan.
-
Ukuran Gelembung Tidak Merata: Desain atau kondisi pengoperasian yang tidak tepat dapat menyebabkan ukuran gelembung tidak teratur, sehingga mengurangi efisiensi flotasi.
-
Ketidakstabilan Tekanan: Jika sistem kontrol tekanan air sparger gagal, hal ini dapat mencegah perangkat beroperasi dengan benar, sehingga menyebabkan kinerja flotasi yang buruk.
4. Kebocoran atau Penyegelan yang Buruk pada Sel Flotasi
Sel flotasi adalah jantung dari proses flotasi. Kemampuannya untuk mempertahankan segel secara langsung mempengaruhi pemulihan mineral dan kualitas busa. Kebocoran pada sel flotasi dapat menyebabkan hilangnya slurry, ketidakstabilan busa, dan pada akhirnya mengurangi efisiensi flotasi. Kebocoran biasanya terjadi pada sambungan, katup, atau tempat pertemuan dinding sel dengan lantai.
Masalah Umum:
-
Kebocoran Bawah: Degradasi segel di bagian bawah sel flotasi dapat mengakibatkan kebocoran bubur.
-
Kebocoran Jahitan: Segel di sekitar sambungan sel flotasi dapat rusak seiring berjalannya waktu, sehingga lumpur dapat keluar.
-
Masalah Penyegelan Katup: Penyegelan katup yang buruk dapat menyebabkan hilangnya mineral dan mengurangi tingkat pemulihan secara keseluruhan.
5. Kegagalan Sistem Pengumpanan Reagen Flotasi
Reagen flotasi sangat penting untuk memodifikasi hidrofobisitas dan hidrofilisitas mineral untuk meningkatkan perlekatan antara mineral dan gelembung udara. Kegagalan dalam sistem pengumpanan reagen dapat mengakibatkan pemberian dosis yang tidak teratur atau tidak akurat, yang pada gilirannya mempengaruhi proses flotasi dan pemulihan mineral.
Masalah Umum:
-
Dosis yang Tidak Akurat: Kesalahan dalam sistem pemberian dosis dapat menyebabkan dosis reagen tidak mencukupi atau berlebihan, sehingga mengurangi efektivitas proses flotasi.
-
Masalah Penyimpanan Reagen: Seiring waktu, reagen dapat rusak atau menjadi tidak efektif jika disimpan secara tidak tepat, sehingga mengurangi kemampuannya untuk membantu flotasi.
-
Pembubaran Reagen Tidak Lengkap: Jika sistem pembubaran reagen tidak berfungsi, reagen mungkin tidak larut sepenuhnya, menyebabkan distribusi tidak merata dan penurunan kinerja flotasi.
6. Kegagalan Sistem Kelistrikan
Sistem kelistrikan peralatan flotasi mengontrol fungsi-fungsi penting seperti pengoperasian motor, takaran reagen, pengosongan udara, dan pengadukan bubur. Kerusakan pada sistem kelistrikan dapat mengganggu seluruh proses flotasi, menyebabkan pengoperasian tidak stabil dan peningkatan waktu henti.
Masalah Umum:
-
Kegagalan Panel Kontrol: Masalah pada panel kontrol dapat menyebabkan peralatan flotasi gagal memulai atau beroperasi tidak menentu.
-
Hubungan Pendek Listrik: Kabel listrik yang rusak atau hubungan pendek dapat mengakibatkan peralatan mati atau tidak berfungsi.
-
Kegagalan Sistem Otomasi: Masalah pada sistem kontrol otomatis dapat menyebabkan fluktuasi dalam pengoperasian, mengurangi ketepatan kontrol flotasi, dan berdampak negatif pada pemulihan mineral.
7. Konsentrasi Bubur yang Tidak Stabil dalam Sel Flotasi
Konsentrasi bubur dalam sel flotasi secara langsung mempengaruhi kinerja flotasi. Konsentrasi slurry yang tidak konsisten—apakah terlalu tinggi atau terlalu rendah—dapat menyebabkan pemisahan mineral tidak efisien dan pemulihan flotasi yang buruk. Masalah konsentrasi slurry dapat timbul dari kontrol aliran yang tidak tepat atau agitator yang tidak berfungsi.
Masalah Umum:
-
Konsentrasi Terlalu Tinggi: Terlalu banyak kandungan padat dalam slurry dapat menghambat perlekatan gelembung dan mempengaruhi efisiensi flotasi.
-
Konsentrasi Terlalu Rendah: Jika kandungan padatan terlalu rendah, efisiensi flotasi dapat menurun karena gelembung udara tidak dapat membawa cukup mineral ke permukaan.
-
Konsentrasi Berfluktuasi: Kontrol aliran yang tidak konsisten dapat menyebabkan variasi konsentrasi, yang berdampak negatif terhadap kinerja flotasi.
8. Busa Berlebihan pada Sel Flotasi
Busa berperan penting dalam proses flotasi dengan membawa mineral ke permukaan. Namun, pembentukan busa yang berlebihan dapat menyebabkan pemisahan mineral yang buruk dan mengurangi tingkat pemulihan. Busa berlebih dapat disebabkan oleh jumlah reagen yang berlebihan, pengaturan penghambur udara yang tidak tepat, atau komposisi mineral yang tidak biasa dalam slurry.
Masalah Umum:
-
Pembentukan Busa Berlebihan: Terlalu banyak busa dapat menyebabkan partikel mineral terlepas dari gelembung, sehingga mengurangi pemulihan.
-
Ketidakstabilan Busa: Busa berkualitas buruk atau busa yang terurai terlalu cepat dapat mengurangi kinerja flotasi.
-
Kualitas Busa Buruk: Gelembung kecil dan tidak teratur dapat menghambat flotasi efektif, sehingga mengurangi efisiensi pemisahan mineral.
EN
